<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ahlussunnah Wal Jama&#039;ah</title>
	<atom:link href="http://ahlussunnah.web.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ahlussunnah.web.id</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 07 Mar 2010 05:46:40 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hukum menggunakan software bajakan (2)</title>
		<link>http://ahlussunnah.web.id/07/03/2010/hukum-menggunakan-software-bajakan-2</link>
		<comments>http://ahlussunnah.web.id/07/03/2010/hukum-menggunakan-software-bajakan-2#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 05:16:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuyahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[software bajakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.web.id/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Asy-Syaikh al-&#8217;Utsaimin -rahimahulloh-
Apa hukum mengcopy program-program computer yang bermanfaat dari cd-nya yang asli, yang diterbitkan oleh salah satu perusahaan, untuk dimanfaatkan secara pribadi, atau membagikannya kepada teman-teman, atau untuk dijual. Apakah sama hukumnya jika perusahaan ini dimiliki orang-orang kafir atau muslimin, ataukah tidak (sama hukumnya)?
Jawaban:
Pertama: kita bertanya, apakah perusahaan tersebut yang menerbitkan berbagai program ini, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Asy-Syaikh al-&#8217;Utsaimin -rahimahulloh-</strong></p>
<p>Apa hukum mengcopy program-program computer yang bermanfaat dari cd-nya yang asli, yang diterbitkan oleh salah satu perusahaan, untuk dimanfaatkan secara pribadi, atau membagikannya kepada teman-teman, atau untuk dijual. Apakah sama hukumnya jika perusahaan ini dimiliki orang-orang kafir atau muslimin, ataukah tidak (sama hukumnya)?</p>
<p>Jawaban:<br />
<span id="more-71"></span>Pertama: kita bertanya, apakah perusahaan tersebut yang menerbitkan berbagai program ini, apakah secara jujur dia yang menjaga haknya atau tidak? Jika tidak benar bahwa dia yang membuatnya sendiri dan memeliharanya, maka boleh bagi setiap orang menyalin darinya, sama saja apakah untuk dirinya, atau untuk dibagikan kepada teman-temannya, atau dia jual. Sebab tidak terjaga (haknya). Adapun jika ia mengatakan: hak penyalinan terpelihara, maka disini wajib bagi kita sekalian kaum muslimin , atau diseluruh dunia untuk menegakkan apa yang wajib. Dan merupakan hal yang telah diketahui bahwa peraturan telah menetapkan bahwa jika dia sendiri yang membuat pemeliharaannya, maka tidak seorang pun diperbolehkan untuk melanggarnya. Sebab jika dibuka pintu ini, maka akan rugilah perusahaan yang menerbitkannya tersebut, dengan kerugian yang besar, boleh jadi computer ini tidak dihasilkan oleh perusahaan tersebut kecuali dengan biaya yang sangat besar. maka jika disalin lalu disebarkan, maka jadilah yang dijual seharga lima ratus (riyal) menjadi berapa? Lima (riyal), dan ini kemudharatan, sedangkan Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “tidak ada kemudharatan yang tanpa disengaja maupun yang disengaja”. Dan hadits ini umum.</p>
<p>Oleh karena itu,saya berharap agar kaum muslimin faham bahwa manusia yang paling menyempurnakan janji dan tanggung jawab adalah kaum muslimin,Sampai rasul alaihis shalatu wassalaam memberi peringatan dari mengingkari janji,dan mengabarkan bahwa itu termasuk dari sifat siapa? Kaum munafiqin. Allah Ta’ala juga berfirman:</p>
<p>“dan janganlah engkau membatalkan perjanjian setelah engkau menetapkannya”.</p>
<p>Tidak semua orang kafir hartanya dihalalkan atau darahnya dihalalkan, orang kafir yang harbi (diperangi) seperti yahudi misalnya, ini kafir harbi. Namun apabila ada perjanjian antara kita dan dia,walaupun perjanjian yang bersifat umum, maka dia mejadi kafir mu’ahad. Dan sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:</p>
<p>“Barangsiapa yang membunuh kafir mu’ahad, maka dia tidak mencium bau syurga”.</p>
<p>Oleh karena itu kami mengatakan: berbagai produk tersebut, jika perusahaan tersebut tidak membuat pemeliharaan terhadapnya sedikitpun maka , maka apa perkaranya? Diperluas atau dipersempit? Diperluas, silahkan anda menyalin darinya, baik untuk dirimu, atau untuk temanmu, atau engkau bagikan.adapun jika telah terpelihara,maka tidak boleh.</p>
<p>Tinggal yang menjadi masalah bagiku,apabila seseorang hendak menyalinnya untuk dirinya sendiri saja, tanpa mendatangkan kemudharatan terhadap perusahaan tersebut, apakah boleh atau tidak boleh? Yang Nampak bahwa hal ini tidak mengapa, selama engkau tidak menginginkan darinya keuntungan, namun engkau sendiri saja yang mengambil manfaat , maka saya berharap hal ini tidak mengapa, walaupun menurut saya bahwa ini berat bagiku, namun saya berharap tidak mengapa. insya Allah.</p>
<p>Diterjemahkan oleh: Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>السؤال</strong><strong>/</strong></p>
<p><strong>ما حكم نسخ برامج كمبيوتر نافعة من شرائط أصلية أصدرتها إحدى الشركات وذلك إما للاستفادة الشخصية أو للتوزيع منها على الزملاء أو للبيع و هل يستوي في ذلك أن تكون هذه الشركات تخص كفاراً أو مسلمين أم لا ؟</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>الإجابة</strong><strong>/</strong></p>
<p><strong>أولاً نسأل هل هذه الشركات التي أحضرت هذه الأشياء هل احتفظت لنفسها بحق أو لا ؟ إن لم تحتفظ لنفسها بحق ، فلكل إنسان أن ينسخ منها سواءً لنفسه أو وزع على أصحابه أو يبيع . لأنها لم تُحمَ ، و أما إذا قال حقوق النسخ محفوظة ، فهنا يجب أن نكون نحن المسلمين أوفى العالم بما يجب ، و المعروف أن النظام إذا احتفظ لحقه فإنه لا أحد يعتدي عليه</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>لأنه لو فُتح هذا الباب لخسرت الشركة المنتجة إيش ؟ خسارة بليغة ؛ قد يكون هذا الكمبيوتر لم تحصل عليه الشركة إلا بأموال كثيرة باهظة ، فإذا نُسخ و وُزع صار الذي يباع بخمسمائة يباع كم ؟ خمسة ، و هذا ضرر ، و النبي صلى الله عليه و سلم قال : (( لا ضرر و لا ضرار )) وهذا عام</strong><strong>.</strong></p>
<p><strong>ولهذا أرجو أن يفهم المسلمون أن أوفى الناس بالذمة و العهد هم المسلمون ، حتى إن الرسول عليه الصلاة و السلام حذر من الغدر وأخبر أنه من صفات من ؟ المنافقين</strong><strong> .</strong></p>
<p><strong>وقال الله تعالى : (( ولا تنقضوا الأيمان بعد توكيدها )) و ليس كل كافر يكون ماله حلالاً أو دمه حلالاً ، الكافر الحربي كاليهود مثلاً هذا حربي ، و أما من بيننا وبينه عهد ولو بالعهد العام فهو معاهد ، و قد قال النبي صلى الله عليه و سلم : (( من قتل مُعاهداً لم يَرَحْ رائحة الجنة )) و المسلمين أوفى الناس بالعهد</strong><strong> .</strong></p>
<p><strong>فلذلك نقول : هذه المنتجات إذا كانت الشركات لم تحتفظ لنفسها بشيء فالأمر فيها إيش ؟ واسع و إلا ضيق ؟ واسع ، انسخ منها لنفسك أو لأصحابك أو وزع . إذا كانت قد احتفظت فلا</strong><strong> .</strong></p>
<p><strong>يبقى عندي إشكال فيما إذا أراد الإنسان أن ينسخ لنفسه فقط دون أن يصيب هذه الشركة بأذى ، فهل يجوز أو لا يجوز ؟ الظاهر لي إن شاء الله أن هذا لا بأس به ما دُمت لا تريد بذلك الريع و إنما تريد أن تنتفع أنت وحدك فقط فأرجو أن لا يكون في هذا بأس على أن هذا ثقيلة علي ، لكن أرجو أن لا يكون فيها بأس إن شاء الله</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.web.id/07/03/2010/hukum-menggunakan-software-bajakan-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum menggunakan software bajakan (1)</title>
		<link>http://ahlussunnah.web.id/07/03/2010/hukum-menggunakan-software-bajakan</link>
		<comments>http://ahlussunnah.web.id/07/03/2010/hukum-menggunakan-software-bajakan#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 04:17:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuyahya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[bajakan]]></category>
		<category><![CDATA[software]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.web.id/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Fatwa Lajnah Da’imah

Soal:
Saya bekerja pada bagian komputer, semenjak saya memulai pekerjaan di bagian ini, saya bertugas untuk mengcopy berbagai program untuk memudahkan pekerjaan dengannya. Dan hal itu dapat dilakukan tanpa saya membeli dari kepingan asli program ini, dan perlu diketahui bahwa pada berbagai program tersebut terdapat ungkapan peringatan (larangan) mengcopy, yang maksudnya bahwa hak penyalinan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Fatwa Lajnah Da’imah<br />
</strong></p>
<p>Soal:</p>
<p>Saya bekerja pada bagian komputer, semenjak saya memulai pekerjaan di bagian ini, saya bertugas untuk mengcopy berbagai program untuk memudahkan pekerjaan dengannya. Dan hal itu dapat dilakukan tanpa saya membeli dari kepingan asli program ini, dan perlu diketahui bahwa pada berbagai program tersebut terdapat ungkapan peringatan (larangan) mengcopy, yang maksudnya bahwa hak penyalinan terpelihara, serupa dengan ungkapan “hak percetakan terpelihara” yang terdapat pada sebagian kitab. Dan pemilik program tersebut boleh jadi seorang muslim atau kafir.</p>
<p>Pertanyaan saya: apakah boleh menyalin (mengcopy) dengan cara ini ?<span id="more-64"></span>Jawaban:</p>
<p>Tidak diperbolehkan menyalin berbagai program yang pemiliknya melarang untuk menyalinnya kecuali dengan izin mereka, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam : “Kaum muslimin berpegang diatas syarat-syarat mereka”, dan sabdanya shallallahu alaihi wasallam: “Tidak halal harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dirinya”, dan sabdanya shallallahu alaihi wasallam :”Barangsiapa yang lebih dahulu dalam perkara mubah, maka dia lebih berhak dengannya”. Sama saja apakah pemilik berbagai program tersebut muslim atau pun kafir yang bukan harbi (yang boleh diperangi), sebab hak orang kafir yang bukan harbi terpelihara seperti hak seorang muslim.</p>
<p>Hanya kepada Allah kita memohon taufiq,shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad,pengikutnya,dan para shahabatnya.</p>
<p>Lajnah da’imah lil buhuts al-ilmiyyah wal ifta’<br />
Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz<br />
Wakil ketua: Abdul Aziz Alus syekh<br />
Anggota: -Shaleh Al-Fauzan<br />
- Bakr Abu Zaid</p>
<p>Pertanyaan nomor dua dari fatwa nomor: 19622.<br />
Diterjemahkan oleh : Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi.</p>
<p>س: أعمل في مجال الحاسب الآلي، ومنذ أن بدأت العمل في هذا المجال أقوم بنسخ البرامج للعمل عليها، ويتم ذلك دون أن أشتري النسخ الأصلية لهذه البرامج، علمًا بأنه توجد على هذه البرامج عبارات تحذيرية من النسخ، مؤداها: أن حقوق النسخ محفوظة، تشبه عبارة (حقوق الطبع محفوظة) الموجودة على بعض الكتب، وقد يكون صاحب البرنامج مسلمًا أو كافرًا. وسؤالي هو: هل يجوز النسخ بهذه الطريقة أم لا؟</p>
<p>ج: لا يجوز نسخ البرامج التي يمنع أصحابها نسخها إلا بإذنهم؛ لقوله صلى الله عليه وسلم: « المسلمون على شروطهم » ، ولقوله صلى الله عليه وسلم: « لا يحل مال امرئ مسلم إلا بطيبة من نفسه » ، وقوله صلى الله عليه وسلم: « من سبق إلى مباح فهو أحق به » سواء كان صاحب هذه البرامج مسلمًا أو كافرًا غير حربي؛ لأن حق الكافر غير الحربي محترم كحق المسلم.</p>
<p>وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.</p>
<p>اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء</p>
<p>عضو // عضو // نائب الرئيس // الرئيس //</p>
<p>بكر أبو زيد // صالح الفوزان // عبد العزيز آل الشيخ // عبد العزيز بن عبد الله بن باز //</p>
<p>السؤال الثاني من الفتوى رقم 19622</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.web.id/07/03/2010/hukum-menggunakan-software-bajakan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Chatting (Ngobrol) Antar Lawan Jenis Via Internet</title>
		<link>http://ahlussunnah.web.id/18/02/2010/hukum-chatting-lawan-jenis-via-internet</link>
		<comments>http://ahlussunnah.web.id/18/02/2010/hukum-chatting-lawan-jenis-via-internet#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 03:12:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdulaziz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[chatting]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[lawan jenis]]></category>
		<category><![CDATA[via]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.web.id/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Syaikh Nashir bin Hamd Al Fahd
Penanya: Aku adalah seorang pemuda. Aku punya hobi ngenet (main internet) dan chatting (ngobrol). Aku hampir tidak pernah chatting dengan wanita. Jika terpaksa aku chatting dengan wanita maka aku tidaklah berbicara kecuali dalam hal yang baik-baik.
Kurang dari setahun lalu ada seorang gadis yang mengajak aku chatting lalu meminta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh</strong> : <strong>Syaikh Nashir bin Hamd Al Fahd</strong></p>
<p><strong>Penanya</strong>: Aku adalah seorang pemuda. Aku punya hobi ngenet (main internet) dan chatting (ngobrol). Aku hampir tidak pernah chatting dengan wanita. Jika terpaksa aku chatting dengan wanita maka aku tidaklah berbicara kecuali dalam hal yang baik-baik.</p>
<p>Kurang dari setahun lalu ada seorang gadis yang mengajak aku chatting lalu meminta no HP-ku. Aku katakan bahwa aku tidak mau menggunakan hp dan aku tidak ingin membuat Allah murka kepadaku.</p>
<p>Dia lalu mengatakan, “Engkau adalah seorang pemuda yang sopan dan berakhlak mulia. Aku akan bahagia jika kita bisa berkomunikasi secara langsung”. Kukatakan kepadanya, “Maaf aku tidak mau menggunakan HP”. Kemudian dia berkata dengan nada kesal, “Terserah kamu kalo gitu”.</p>
<p><span id="more-57"></span></p>
<p>Selama beberapa bulan kami hanya berhubungan melalui chatting. Suatu ketika dia mengatakan, “Aku ingin no HP-mu”. “Bukankah dulu sudah pernah kukatakan kepadamu bahwa aku tidak mau menggunakan HP”, jawabku. Dia lalu berjanji tidak akan menghubungiku kecuali ada hal yang mendesak. Kalau demikian aku sepakat.</p>
<p>Setelah itu selama tiga bulan dia tidak pernah menghubungiku. Akupun berdoa agar Allah menjadikannya bersama hamba-hamba-Nya yang shalih.</p>
<p>Tak lama kemudian ada seorang gadis kurang lebih berusia 16 tahun yang berakhlak dan sangat sopan menghubungi no HP-ku. Dia berkata dalam telepon, “Apa benar engkau bernama A?”. “Benar, apa yang bisa kubantu”, tanyaku. Dia mengatakan, “Fulanah, yaitu gadis yang telah kukenal via chatting, nitip salam untukmu”. “Salam kembali untuknya. Mengapa tidak dia sendiri yang menghubungiku?”, tanyaku. “Telepon rumahnya diawasi ketat oleh orang tuanya”, jawabnya.</p>
<p>Setelah orang tuanya kembali memberi kelonggaran, dia kembali menghubungiku. Kukatakan kepadanya, “Jangan sering telepon” namun dia selalu saja menghubungiku. Akan tetapi pembicaraan kami sebatas hal-hal yang baik-baik. Kami saling mengingatkan untuk melaksanakan shalat, puasa dan shalat malam.</p>
<p>Setelah beberapa waktu lamanya, dia berterus terang kalau dia jatuh cinta kepadaku dan aku sendiri juga sangat mencintainya. Aku juga berharap bisa menikahinya sesuai dengan ajaran Allah dan rasul-Nya karena dia adalah seorang gadis yang berakhlak, beradab dan taat beragama setelah aku tahu secara pasti bahwa aku adalah orang yang pertama kali melamarnya via telepon.</p>
<p>Akan tetapi empat bulan yang lewat, ayahnya memaksanya untuk menikah dengan saudara sepupunya sendiri karena ayahnya marah dengannya. Inilah awal masalah. Aku mulai sulit tidur. Kukatakan kepadanya, “<em>Serahkan urusan kita kepada Allah. Kita tidak boleh menentang takdir</em>”. Namun dia meski sudah menikah tetap saja menghubungiku. Kukatakan kepadanya, “<em>Haram bagimu untuk menghubungiku karena engkau sudah menjadi istri seseorang</em>”.</p>
<p>Yang jadi permasalahan, bolehkah dia menghubungiku via HP sedangkan dia telah menjadi istri seseorang? Allah-lah yang menjadi saksi bahwa pembicaraanku dengannya sebatas hal yang baik-baik. Kami saling mengingatkan untuk menambah ketaatan terlebih lagi ayahnya memaksanya untuk menikah dengan dengan lelaki yang tidak dia cintai.</p>
<p><strong>Jawab:</strong><br />
Saling menelepon antar lawan jenis itu <strong>tidaklah diperbolehkan secara mutlak </strong>baik pihak wanita sudah bersuami maupun belum. Bahkan ini adalah <strong>tipu daya Iblis</strong>.</p>
<p>Engkau katakan bahwa tidak ada hubungan antaramu dengan dia selain saling menasehati dan mengajak untuk melakukan amal shalih. Perhatikan bagaimana masalah cinta dan yang lainnya menyusup melalui hal ini. Bukankah engkau tadi mengatakan bahwa engkau mencintainya dan diapun mencintaimu sedangkan katamu topik pembicaraanmu hanya seputar amal shalih? Kami tahu sendiri beberapa pemuda yang semula sangat taat beragama berubah menjadi menyimpang gara-gara hal ini.</p>
<p><strong>Wahai saudaraku bertakwalah kepada Allah. Jauhilah perkara ini.</strong><em> </em>Cara-cara seperti ini lebih berbahaya dari pada cara-cara orang fasik yang secara terang-terangan ngobrol dengan perempuan dengan tujuan-tujuan yang tidak terpuji. Mereka sadar bahwa yang mereka lakukan adalah sebuah maksiat. Sadar bahwa perkara itu adalah keliru merupakan awal langkah untuk memperbaiki diri.<br />
Sedangkan dirimu tidak demikian bahkan bisa jadi engkau menganggapnya sebagai sebuah ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,</p>
<p style="text-align: right">مَا تَرَكْتُ بَعْدِى فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ</p>
<p>“Tidaklah kutinggalkan suatu ujian yang lebih berat bagi laki-laki melebihi wanita” (HR Bukhari no 4808 dan Muslim no 2740 dari Usamah bin Zaid).</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,</p>
<p style="text-align: right">فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِى النِّسَاءِ</p>
<p>“Sesungguhnya awal kebinasaan Bani Israil adalah disebabkan masalah wanita” (HR Muslim no 7124 dari Abu Sa&#8217;id Al Khudry).</p>
<p>Perempuan yang mengajakmu ngobrol dengan berbagai obrolan ini padahal tidak ada hubungan kekerabatan antara dirimu dengannya adalah suatu yang haram. Hati-hatilah dengan cara-cara seperti ini. Semoga Allah menjadikanmu sebagai salah seorang hamba-Nya yang shalih.</p>
<p><strong>Tanya</strong>: Sekiranya jawaban terhadap pertanyaan di atas adalah tidak boleh apakah boleh dia mengajakku ngobrol via chatting?</p>
<p><strong>Jawab</strong>:<br />
<strong> Wahai saudaraku, hal ini tidaklah dibolehkan</strong>. Hubunganmu dengannya semula adalah chatting lalu berkembang menjadi komunikasi langsung via telepon dan puncaknya adalah ungkapan cinta. Apakah hanya akan berhenti di sini?<br />
Semua hal ini adalah tipu daya Iblis untuk menjerumuskan kaum muslimin dalam hal-hal yang haram. Bersyukurlah kepada Allah karena Dia masih menyelamatkanmu. Bertakwalah kepada Allah, jangan ulangi lagi baik dengan perempuan tersebut ataupun dengan yang lain.</p>
<p><strong>Tanya</strong>: Apa hukum seorang laki-laki yang chatting dengan seorang perempuan via internet dan yang dibicarakan adalah hal yang baik-baik?<br />
<strong>Jawab</strong>:<br />
Tidak ada seorangpun yang bisa mengeluarkan fatwa yang bersifat umum untuk permasalahan semisal ini karena ada banyak hal yang harus dipertimbangkan masak-masak. Fatwa yang bisa saya sampaikan kepadamu adalah obrolan dengan lawan jenis yang semisal kau lakukan adalah tidak diperbolehkan. Bukti nyata untuk hal ini adalah apa yang engkau ceritakan sendiri bahwa hubunganmu dengan perempuan tersebut terus berkembang ke arah yang terlarang.</p>
<p>(Dinukil dan diterjemahkan dari <em>Majmu Fatawa Al Adab</em> karya Nashir bin Hamd Al Fahd).</p>
<p>Lampiran:</p>
<p>Berikut kami lampirkan Fatwa Teks Asli berbahasa Arab, sbb:</p>
<p style="margin-right: 5pt;text-align: center;direction: rtl" dir="rtl"><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">(مخاطبة الأجنبية عبر الإنترنت)</span></strong></p>
<p style="margin-right: 5pt;text-align: justify;direction: rtl" dir="rtl"><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">انا شاب من هوات الانترنت والمحادثة</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">ولله الحمد لا اتكلم مع البنات الا نادر واذا تكلمة لا اتكلم الا فيما يرضي الله عز</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">وجل لا اقول ما يغضب الله وكله في حدود الله وقبل اقل من عام كلمتني بنت وطلبت رقم</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">الهاتف الخاص بي فاجبتها بانني لا استخدم الهاتف ولا احب ان اغضب ربي علي فقالت لي</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">انك شخص مؤدب خلوق وسوف اسعد لو احببتني واحببتك واكملنى حياتنى مع بعض فقلت لها لا</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">اسف لا استخدم الهاتف فقالت كما تريد ومع مرور الايام والاشهر وكل حديثنى مجرد</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">كتابه في المحادثة فقط بعد حوالي شهر قالت لي اريد رقم الهاتف الخاص بك قلت لها لقد</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">اجبتك من قبل قالت ارجوك اتركه معي للزمن واوعدك ان لا اتصل بك الا اذا لزم الامر!</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">فقلت اتفقنى&#8230;.بعد 3 شهور اختفت ودعيت الله ان يجعلها مهع عباده الصالحين&#8230;.وبعد</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">فترة من الزمن جائني اتصال قريبب من بنت عمرها 16 سنه خلوقة مؤدبه تتكلم وترتجف!!</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">فقلت نعم قالت انت فلان قلت نعم بم اخدمك قالت فلانه تسلم عليك! تقصد البنت التي</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">كنت قد عرفتها في الانترنت قلت عليك وعليها تحية الاسلام ولماذا لم تتصل قالت تلفون</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">بيتها مراقب&#8230;.ثم انصرفت فعاودة الاتصال فاحرجة انت اقو لها لا تتصلي فقامت تتصل و</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">تتصل وكل كلامنى في حدود الله وكنى نحث بعض على الصلاة والصوم وقيام الليل وبعد</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">فترة من الزمن صارحتني بحبها لي&#8230;ولا اكذب عليك لقد احببتها حب كبير وكنت اتمنى ان</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">اتزوجها على سنة الله ورسوله لما رايته فيها من ادب واخلاق ودين وبعد ان تاكدت انني</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">اول من خاطبته في التلفون ولكن قبل 4 شهور جبرها ابوها على ان تتزوج ابن عمها غصب</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">عنها! وهنا بدات الماساه حيث كرهت النوم فقلت لها سلمي امرك وامري الى الله اللهم</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">لا اعتراض فقامت تتصل بي فقلت لها انه حرام لانك على ذمت رجل</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">اخر</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr"> </span></strong></p>
<p style="margin-right: 5pt;text-align: justify;direction: rtl" dir="rtl"><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">السؤال</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr">: </span></strong></p>
<p style="margin-right: 5pt;text-align: justify;direction: rtl" dir="rtl"><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">هل من الممكن ان تكلمني في الهاتف؟ وهي على</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">ذمت رجل والله ادرى ان كلامنى في حدود الله ونحث بعض على زيادة الدين ومع العلم ان</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">اباها جبرها على الزواج غصب عنها</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr"> </span></strong></p>
<p style="margin-right: 5pt;text-align: justify;direction: rtl" dir="rtl"><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">ج/ لا يجوز هذا مطلقا ،</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">سواء كانت على ذمة رجل أو لا ، بل هذه من خدع إبليس أن تقول ليس بيني وبينها إلا</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">التناصح والحث على الأعمال الصالحة ، وانظر كيف دخلت مسائل -الحب- وغيرها هنا ، ألا</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">تخبرنا : -كيف أحببتها وأحبتك- وأنتم حديثكم عن الأعمال الصالحة؟ ونحن نعرف شبابا من</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">خيرة الشباب انتكسوا من الالتزام إلى الانحراف بسبب هذه الأمور. </span></strong></p>
<p style="margin-right: 5pt;text-align: justify;direction: rtl" dir="rtl"><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA"><span> </span>أيها الأخ الكريم</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">اتق الله وإياك وهذه المسالك فإنها أخطر من مسالك الفساق الذين يتحدثون صراحة مع</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">النساء لأغراض سيئة لأن أولئك يعلمون ما هم فيه من معصية ومعرفة الداء طريق الدواء،</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">وأما أنت فلا ، بل قد تظنه قربة ، وقد قال الرسول صلى الله عليه وسلم -ما تركت بعدي</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">فتنة هي أضر على الرجال من النساء وإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء-</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">والمرأة التي تحدثك  هذه الأحاديث وليس بينك وبينها قرابة محرمة تحدث غيرك، فإياك</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">ثم إياك من مثل هذه الطرق ، جعلك الله من عباده الصالحين</span></strong></p>
<p style="margin-right: 5pt;text-align: justify;direction: rtl" dir="rtl"><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">س/ واذا كان الجواب لا هل من الممكن ان</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">تكلمني في الانترنت مجرد كتابه؟</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr"> </span></strong></p>
<p style="margin-right: 5pt;text-align: justify;direction: rtl" dir="rtl"><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">ج/ هذا لا يجوز أخي</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">الكريم ، وعلاقتك معها تطورت من الكتابة في الإنترنت إلى التخاطب في الهاتف إلى</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">التصريح بالحب ، وهل ستتوقف عند هذا؟، وهذا كله طريق لإبليس لإيقاع المسلمين في</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">المحرمات ، فاحمد الله على سلامتك واتق الله ولا تعد الكرة معها ولا مع</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA">غيرها</span></strong><strong></strong></p>
<p style="margin-right: 5pt;text-align: right;direction: rtl" dir="rtl"><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">س/ وما حكم الرجل اذا خاطب بنت في الانترنت</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial" lang="AR-SA">مجرد كتابه في حدود شرع الله عز وجل ؟</span></strong></p>
<p style="text-align: right"><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" dir="rtl" lang="AR-SA">ج/ لا يستطيع أحد أن يصدر</span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial;color: red" lang="AR-SA"> <span dir="rtl">فتوى عامة في مثل هذا الموضوع لأن هذا كله يخضع لأمور كثيرة، ولكن الذي أستطيع</span> <span dir="rtl">إفتاءك به هو أن ما كان من جنس عملك هذا في التخاطب معهن فهو لا يجوز ، وأعظم</span> <span dir="rtl">الأدلة على ذلك ما ذكرته أنت في تطور علاقتك بإحداهن</span></span></strong><strong><span style="font-size: 16pt;font-family: Arial"><br />
</span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.web.id/18/02/2010/hukum-chatting-lawan-jenis-via-internet/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bekal-Bekal Menuju Pernikahan Sesuai Sunnah Nabi</title>
		<link>http://ahlussunnah.web.id/11/02/2010/bekal-bekal-menuju-pernikahan-sesuai-sunnah-nabi</link>
		<comments>http://ahlussunnah.web.id/11/02/2010/bekal-bekal-menuju-pernikahan-sesuai-sunnah-nabi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 14:28:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdulaziz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Bekal]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>
		<category><![CDATA[sesuai sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.web.id/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan
Mukadimah
Islam adalah agama yang universal. Agama yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Tidak ada satu persoalan pun dalam kehidupan ini, melainkan telah dijelaskan. Dan tidak ada satu masalah pun, melainkan telah disentuh oleh nilai Islam, kendati masalah tersebut nampak ringan dan sepele. Itulah Islam, agama yang menebar rahmat bagi semesta alam.

Dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>Oleh : Syaikh Shalih Fauzan Al-Fauzan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Mukadimah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Islam adalah agama yang universal. Agama yang mencakup seluruh aspek kehidupan. Tidak ada satu persoalan pun dalam kehidupan ini, melainkan telah dijelaskan. Dan tidak ada satu masalah pun, melainkan telah disentuh oleh nilai Islam, kendati masalah tersebut nampak ringan dan sepele. Itulah Islam, agama yang menebar rahmat bagi semesta alam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span id="more-52"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Dalam hal pernikahan, Islam telah berbicara banyak. Dari sejak mencari kriteria calon pendamping hidup, hingga bagaimana cara berinteraksi dengannya tatkala resmi menjadi penyejuk hati. Islam memberikan tuntunan, begitu pula Islam mengarahkan bagaimana panduan menyelenggarakan sebuah pesta pernikahan yang suka ria, namun tetap memperoleh berkah dan tidak menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, demikian pula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap ada daya tarik tersendiri. Maka Islam mengajarkannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Namun buku ini sebatas membahas tentang manfaat menikah, hal-hal yang berkenaan tentang khitbah (meminang), akad nikah, rukun-rukun, dan syarat-syarat serta pembahasan tentang pesta perkawinan atau <em>walimatul ‘ursy</em>. Semoga kita bisa mengambil manfaat dari pembahasan tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong><span>Manfaat Menikah </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Nikah memiliki manfaat yang sangat besar, sebagai berikut : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>1. Tetap terpeliharanya jalur keturunan manusia, memperbanyak jumlah kaum </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>muslimin dan menjadikan orang kafir gentar dengan adanya generasi penerus yang berjihad di jalan Allah dan membela agamanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>2. Menjaga kehormatan dan kemaluan dari <span> </span>perbuatan zina yang diharamkan lagi merusak tatanan masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>3. Terealisasinya kepemimpinan suami atas istri dalam hal memberikan nafkah dan penjagaan kepadanya. Allah berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;direction: rtl" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ã</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>A</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>%</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>y</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>`</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ì</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>h</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>9</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>$</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>#</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>c</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>q</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ã</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>B</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>º</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>§</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>q</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>s</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>%</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>n</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>?</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>t</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>ã</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>ä</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>!</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>$</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>|</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>¡</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>i</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>Y</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>9</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>$</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>#</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>$</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>y</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>J</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Î</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>/</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>@</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>Ò</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>s</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>ù</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>ª</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>!</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>$</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>#</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ó</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>O</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ß</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>g</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>Ò</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>÷</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>è</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>t</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>/</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>4</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>n</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>?</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>t</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>ã</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>&lt;</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>Ù</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>÷</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>è</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>t</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>/</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>!</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>$</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>y</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>J</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Î</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>/</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>u</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>r</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>(</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>#</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>q</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>à</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>)</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>x</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>ÿ</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>R</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>r</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>&amp;</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ô</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>`</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>B</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ö</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>N</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Î</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>g</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>9</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>º</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>u</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>q</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ø</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>B</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>r</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>&amp;</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>4</span></span><span lang="AR-SA"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An Nisa’ : 34) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>4. Memperoleh ketenangan dan kelembutan hati bagi suami dan istri serta ketenteraman jiwa mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;direction: rtl" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ô</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>`</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>B</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>u</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>r</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ÿ</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>¾</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>m</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>G</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>»</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>t</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>#</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>u</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>ä</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>÷</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>b</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>r</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>&amp;</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>t</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>,</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>n</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>=</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>y</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>{</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB3" dir="ltr"><span>/</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ä</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>3</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>s</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>9</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ô</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>`</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>i</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>B</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ö</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>N</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ä</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>3</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Å</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>¡</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>à</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>ÿ</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>R</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>r</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>&amp;</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>%</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>[</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>`</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>º</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>u</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>r</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ø</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>r</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>&amp;</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>(</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>#</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>þ</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>q</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ã</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>Z</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ä</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>3</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ó</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>¡</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>t</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>F</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>j</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>9</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>$</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>y</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>g</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ø</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>s</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>9</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Î</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>)</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>@</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>y</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>è</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>y</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>_</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>u</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>r</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>N</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>à</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>6</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>u</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>Z</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>÷</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>t</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>/</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Z</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>o</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>¨</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>u</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>q</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>¨</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>B</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>º</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>p</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>y</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>J</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ô</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>m</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>u</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>u</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>r</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>4</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>¨</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>b</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Î</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>)</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Î</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>û</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>y</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>7</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>9</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>º</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>s</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span></span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>;</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>M</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>»</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>t</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>U</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>y</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>5</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>Q</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ö</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>q</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>s</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>)</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>j</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>9</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>t</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>b</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>r</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ã</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>©</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>3</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>x</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>ÿ</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>t</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>G</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>t</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span></span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>Ç</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>Ë</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>Ê</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>È</span></span><span lang="AR-SA"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (Ar-Ruum : 21). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>5. Membentengi masyarakat dari prilaku yang keji yang dapat menghancurkan moral serta menghilangkan kehormatan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>6. Terpeliharanya nasab dan jalinan kekerabatan antara yang satu dengan yang lainnya serta terbentuknya keluarga yang mulia lagi penuh kasih sayang, ikatan yang kuat dan tolong-menolong dalam kebenaran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>7. Mengangkat derajat manusia dari kehidupan bak binatang menjadi kehidupan manusiawi yang mulia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Dan masih banyak manfaat besar lainnya dengan adanya pernikahan yang syar’i, mulia dan bersih yang tegak berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Menikah adalah ikatan syar’i yang menghalalkan hubungan antara laki-laki dan perempuan, sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Berwasiatlah tentang kebaikan kepada para wanita, sesungguhnya mereka bagaikan tawanan di sisi kalian. Kalian telah menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah (akad nikah, pent)”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Akad nikah adalah ikatan yang kuat antara suami dan istri. Allah berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;direction: rtl" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>c</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>õ</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>y</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>z</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>r</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>&amp;</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>u</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>r</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>N</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>à</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>6</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>Z</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>B</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>$</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>¸</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>)</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>»</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>s</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>V</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>i</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>B</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>$</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Z</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>à</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Î</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>=</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>x</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>î</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>Ç</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>Ë</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>Ê</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>È</span></span><span lang="AR-SA"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”.(An Nisa’ : 21) yaitu akad (perjanjian) yang mengharuskan bagi pasangan suami istri untuk melaksanakan janjinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Allah berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;direction: rtl" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>$</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>y</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>g</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>r</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>&#8216;</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>¯</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>»</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>t</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span></span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>ú</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB3" dir="ltr"><span>%</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>©</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB3" dir="ltr"><span>!</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>$</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>#</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>(</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>#</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>þ</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>q</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ã</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>Y</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>t</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>B</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>#</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>u</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>ä</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>(</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>#</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>q</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>è</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>ù</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>÷</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>r</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>r</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>&amp;</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Ï</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>q</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>à</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>)</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ã</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>è</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>ø</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB2" dir="ltr"><span>9</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB5" dir="ltr"><span>$</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>$</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>Î</span></span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB1" dir="ltr"><span>/</span></span><span> </span><span style="font-size: 14pt;font-family: HQPB4" dir="ltr"><span>4</span></span><span lang="AR-SA"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu”. (Al-Maidah : 1) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Khitbah (Meminang) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Rasulullah bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Apabila seorang diantara kalian mengkhitbah (meminang) seorang wanita, maka jika dia bisa melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Dalam hadits lain: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Lihatlah dia, sebab itu lebih patut untuk melanggengkan diantara kalian berdua” (HR. AtTirmidzi, 1087) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Hadits tersebut menunjukkan bolehnya melihat apa yang lazimnya nampak pada wanita yang dipinang tanpa sepengetahuannya dan tanpa berkhalwat (berduaan) dengannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Para</span><span> ulama berkata: “Dibolehkan bagi orang yang hendak meminang seorang wanita yang kemungkinan besar pinangannya diterima, untuk melihat apa yang lazimnya nampak dengan tidak berkholwat (berduaan) jika aman dari fitnah”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Dalam hadits Jabir, dia berkata: “Aku (berkeinginan) melamar seorang gadis lalu aku bersembunyi untuk melihatnya sehingga aku bisa melihat darinya apa yang mendorongku untuk menikahinya, lalu aku menikahinya” (HR. Abu Dawud, no. 2082). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Hadits ini menunjukkan bahwa Jabir tidak berduaan dengan wanita tersebut dan si wanita tidak mengetahui kalau dia dilihat oleh Jabir. Dan tidaklah<br />
terlihat dari wanita tersebut kecuali yang biasa terlihat dari tubuhnya. Hal ini rukhsoh (keringanan) khusus bagi orang yang kemungkinan besar pinangannya diterima. Jika kesulitan untuk melihatnya, bisa mengutus wanita yang dipercaya untuk melihat wanita yang dipinang kemudian menceritakan kondisi wanita yang akan dipinang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Berdasarkan apa yang diriwayatkan bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Ummu Sulaim untuk melihat seorang wanita (HR. Ahmad). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Barangsiapa yang diminta untuk menjelaskan kondisi peminang atau yang dipinang, wajib baginya untuk menyebutkan apa yang ada padanya dari kekurangan atau hal lainnya, dan itu bukan termasuk ghibah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Dan diharamkan meminang dengan ungkapan yang jelas (tashrih) kepada wanita yang sedang dalam masa ‘iddah (masa tunggu, yang tidak bisa diruju’ oleh suami atau ditinggal mati suaminya, pent). Seperti ungkapan: “Saya ingin menikahi Anda”. Berdasarkan firman Allah Ta’ala: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanitawanita itu dengan sindiran” (QS. 2: 235) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Dan dibolehkan sindiran dalam meminang wanita yang sedang dalam masa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>‘iddah. Misalnya dengan ungkapan: “Sungguh aku sangat tertarik dengan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>wanita yang seperti anda” atau “Dirimu selalu ada dalam jiwaku”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Ayat tersebut menunjukkan haramnya tashrih, seperti ungkapan: “Saya ingin menikahi anda” karena tashrih tidak ada kemungkinan lain kecuali nikah. Maka tidak boleh memberi harapan penuh sebelum habis masa<br />
‘iddahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Diharamkan meminang wanita pinangan saudara muslim lainnya. Barangsiapa yang meminang seorang wanita dan diterima pinangannya, maka diharamkan bagi orang lain untuk meminang wanita tersebut<br />
sampai dia diijinkan atau telah ditinggalkan. Berdasarkan sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah seorang laki-laki meminang wanita<br />
yang telah dipinang saudaranya hingga dia menikah atau telah meninggalkannya” (HR. Bukhari dan Nasa’i). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Dalam riwayat Muslim: “Tidak halal seorang mukmin meminang wanita yang telah dipinang saudaranya hingga dia meninggalkannya”. Dalam hadits Ibnu Umar: “Janganlah kalian meminang wanita yang telah dipinang saudaranya” (Muttafaqun ‘alaih). Dalam riwayat Bukhari: “Janganlah seorang laki-laki meminang di atas pinangan laki-laki lain hingga peminang sebelumnya meninggalkannya atau dengan seijinnya”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Hadits-hadits tersebut menunjukkan atas haramnya pinangan seorang muslim di atas pinangan saudaranya, karena hal itu menyakiti peminang yang pertama dan menyebabkan permusuhan diantara manusia dan melanggar hak-hak mereka. Jika peminang pertama sudah ditolak atau peminang kedua diijinkan atau dia sudah meninggalkan wanita tersebut, maka boleh bagi peminang kedua untuk meminang wanita tersebut. Sesuai dengan sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Hingga dia diijinkan atau telah ditinggalkan”. Dan ini termasuk kehormatan seorang muslim dan haram untuk merusak kehormatannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Sebagian orang tidak peduli dengan hal ini, dia maju untuk meminang seorang wanita padahal dia mengetahui sudah ada yang mendahului meminangnya dan telah diterima oleh wanita tersebut. Kemudian dia melanggar hak saudaranya dan merusak pinangan saudaranya yang telah diterima. Hal ini adalah perbuatan yang sangat diharamkan dan pantas bagi orang yang maju untuk mengkhitbah wanita yang telah didahului oleh saudaranya ini untuk tidak diterima dan dihukum, juga mendapat dosa yang<br />
sangat besar. Maka wajib bagi seorang muslim untuk memperhatikan masalah ini dan menjaga hak saudaranya sesama muslim. Sesungguhnya sangat besar hak seorang muslim atas saudara muslim lainnya. Janganlah meminang wanita yang sudah dipinang saudaranya dan jangan membeli barang yang dalam tawaran saudaranya dan jangan menyakiti saudaranya dengan segala bentuk hal yang menyakitkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Akad Nikah, Rukun dan Syarat-Syaratnya </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Disunnahkan ketika hendak akad nikah, memulai dengan khutbah sebelumnya yang disebut khutbah Ibnu Mas’ud (khutbatul hajjah, pent) yang disampaikan oleh calon mempelai pria atau orang lain diantara para hadirin. Dan lafadznya sebagai berikut : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Sesungguhnya segala puji bagi Allah. Kami memujiNya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal usaha kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak yang berhak diibadahi melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”. (HR. Imam yang lima dan Tirmidzi menghasankan hadits ini). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Setelah itu membaca tiga ayat Al-Qur’an berikut ini: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Ali ‘Imran: 102). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Hai sekalian manusia bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya, dan daripada keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. An Nisaa’: 1) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”. (QS. Al-Ahzab: 70-71). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Adapun rukun-rukun akad nikah ada 3, yaitu: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>1. Adanya 2 calon pengantin yang terbebas dari penghalang-penghalang sahnya nikah, misalnya: wanita tersebut bukan termasuk orang yang diharamkan untuk dinikahi (mahram) baik karena senasab, sepersusuan atau karena sedang dalam masa ‘iddah, atau sebab lain. Juga tidak boleh jika calon mempelai laki-lakinya kafir sedangkan mempelai wanita seorang muslimah. Dan sebabsebab lain dari penghalang-penghalang syar’i. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>2. Adanya ijab yaitu lafadz yang diucapkan oleh wali atau yang menggantikannya dengan mengatakan kepada calon mempelai pria: “Saya nikahkan kamu dengan Fulanah”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>3. Adanya qobul yaitu lafadz yang diucapkan oleh calon mempelai pria atau orang yang telah diberi ijin untuk mewakilinya dengan mengucapkan : “Saya terima nikahnya”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Syaikhul islam Ibnu Taymiah dan muridnya, Ibnul Qoyyim, menguatkan pendapat bahwa nikah itu sah dengan segala lafadz yang menunjukkan arti nikah, tidak terbatas hanya dengan lafadz Ankahtuka atau Jawwaztuka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Orang yang membatasi lafadz nikah dengan Ankahtuka atau Jawwaztuka karena dua lafadz ini terdapat dalam Al Qur’an. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia” (QS. Al-Ahzab: 37) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Dan firman-Nya yang lain: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu” (QS. An-Nisa’:22) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Akan tetapi kejadian yang disebutkan dalam ayat tersebut tidak berarti pembatasan dengan lafadz tersebut (tazwij atau nikah). Wallahu a’lam. Dan akad nikah bagi orang yang bisu bisa dengan tulisan atau isyarat yang dapat difahami. Apabila terjadi ijab dan qobul, maka sah-lah akad nikah tersebut walaupun diucapkan dengan senda gurau tanpa bermaksud menikah (Jika terpenuhi syarat dan tidak ada penghalang sah-nya akad, pent). Karena Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Ada 3 hal yang apabila dilakukan dengan main-main maka jadinya sungguhan dan jika dilakukan dengan sungguh-sungguh maka jadinya pun sungguhan. Yaitu: talak, nikah dan ruju’” (HR. Tirmidzi, no. 1184). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Adapun syarat-syarat sahnya nikah ada 4, yaitu: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>1. Menyebutkan secara jelas (ta’yin) masing-masing kedua mempelai dan tidak cukup hanya mengatakan: “Saya nikahkan kamu dengan anak saya” apabila mempunyai lebih dari satu anak perempuan. Atau dengan mengatakan: “ Saya nikahkan anak perempuan saya dengan anak lakilaki anda” padahal ada lebih dari satu anak lakilakinya. Ta’yin bisa dilakukan dengan menunjuk langsung kepada calon mempelai, atau menyebutkan namanya, atau sifatnya yang dengan sifat itu bisa dibedakan dengan yang lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>2. Kerelaan kedua calon mempelai. Maka tidak sah jika salah satu dari keduanya dipaksa untuk menikah, sebagaimana hadits Abu Hurairah: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Janda tidak boleh dinikahkan sehingga dia diminta perintahnya, dan gadis tidak dinikahkan sehingga diminta ijinnya.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana ijinnya?”. Beliau menjawab: “Bila ia diam”. (HR. Bukhari dan Muslim). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Kecuali jika mempelai wanita masih kecil yang belum baligh maka walinya boleh menikahkan dia tanpa seijinnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>3. Yang menikahkan mempelai wanita adalah walinya. Berdasarkan sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak sah pernikahan kecuali </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>dengan adanya wali” (HR. Imam yang lima kecuali Nasa’i). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Apabila seorang wanita menikahkan dirinya sendiri tanpa wali maka nikahnya tidak sah. Di antara hikmahnya, karena hal itu merupakan penyebab terjadinya perzinahan dan wanita biasanya dangkal dalam berfikir untuk memilih sesuatu yang paling maslahat bagi dirinya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an tentang masalah pernikahan, ditujukan kepada para wali: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu” (QS. An-Nuur: 32) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka” (QS. Al-Baqoroh: 232) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>dan ayat-ayat yang lainnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Wali bagi wanita adalah: bapaknya, kemudian yang diserahi tugas oleh bapaknya, kemudian ayah dari bapak terus ke atas, kemudian anaknya yang laki-laki kemudian cucu laki-laki dari anak lakilakinya terus ke bawah, lalu saudara laki-laki sekandung, kemudian saudara laki-laki sebapak, kemudian keponakan laki-laki dari saudara laki-laki sekandung kemudian sebapak, lalu pamannya yang sekandung dengan bapaknya, kemudian pamannya yang sebapak dengan bapaknya, kemudian anaknya paman, lalu kerabat-kerabat yang dekat keturunan nasabnya seperti ahli waris, kemudian orang yang memerdekakannya (jika dulu ia seorang budak, pent), kemudian baru hakim sebagai walinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>4. Adanya saksi dalam akad nikah, sebagaimana hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Jabir: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Tidak sah suatu pernikahan tanpa seorang wali dan dua orang saksi yang adil (baik agamanya, pent).” (HR. Al-Baihaqi dari Imran dan dari Aisyah, shahih, lihat Shahih Al-Jamius Shaghir oleh Syaikh Al-Albani no. 7557). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Maka tidak sah pernikahan kecuali dengan adanya dua orang saksi yang adil. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Imam Tirmidzi berkata: “Itulah yang difahami oleh para sahabat Nabi dan para Tabi’in, dan para ulama setelah mereka. Mereka berkata: “Tidak sah menikah tanpa ada saksi”. Dan tidak ada perselisihan dalam masalah ini diantara mereka. Kecuali dari kalangan ahlu ilmi uta’akhirin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>(belakangan)”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Walimatul ‘Urs (Pesta Perkawinan) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Walimah asalnya berarti sempurnanya sesuatu dan berkumpulnya sesuatu. Dikatakan </span><span dir="rtl" lang="AR-SA">ﻞﺟﺮﻟﺍ</span><span>_ </span><span dir="rtl" lang="AR-SA">ﱂ</span><span dir="rtl" lang="AR-SA">ﻭﺃ</span><span>_ _ (Awlamar Rajulu) jika terkumpul padanya akhlak dan kecerdasannya. Kemudian makna ini dipakai untuk penamaan acara makan-makan dalam resepsi pernikahan disebabkan berkumpulnya mempelai lakilaki dan perempuan dalam ikatan perkawinan. Dan tidak dinamakan walimah untuk selain resepsi pernikahan dari segi bahasa dan istilah fuqoha (para ulama). Padahal ada banyak jenis acara makan-makan yang dibuat dengan sebab-sebab tertentu, tetapi masing-masing memiliki penamaan tersendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Hukum walimatul ‘urs adalah sunnah menurut jumhur ulama. Sebagian ulama mewajibkan walimah karena adanya perintah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dan wajibnya memenuhi undangan walimah. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf radiyallahu ‘anhu ketika dia mengkhabarkan bahwa dia telah menikah </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Adakanlah walimah walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing” (HR. Bukhari dan Muslim). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Disamping hal itu, walimah yang seperti di atas tidak lepas dari kejelekan dan kesombongan serta berkumpulnya orang-orang yang biasanya tidak lepas dari kemungkaran. Terkadang walimah ini dilakukan di hotel-hotel yang menyebabkan para wanita tidak menghiraukan lagi pakaian yang menutup aurat, hilangnya rasa malu, bercampurnya wanita dengan laki-laki yang bisa jadi hal ini sebagai penyebab turunnya azab yang besar dari Allah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Terkadang juga diselingi dalam pesta tersebut musik dan nyanyian yang menyenangkan para seniman, juga fotografer untuk memotret para wanita dan kedua mempelai, disamping menghabiskan harta yang banyak tanpa faedah bahkan dengan cara yang rusak dan menyebabkan kerusakan. Maka bertaqwalah kepada Allah wahai orang-orang yang seperti ini dan takutlah terhadap azab Allah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Allah berfirman: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya” (QS. Al-Qoshosh: 58) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebihlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang berlebih-lebihan” (Al-A’rof: 31) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan” (Al-Baqoroh: 60) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Dan ayat-ayat yang berkaitan dengan ini sangat banyak dan jelas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Wajib bagi yang diundang untuk menghadiri walimatul ‘urs apabila terpenuhi syarat-syarat berikut ini: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>1. Walimah tersebut adalah walimah yang pertamajika walimahnya dilakukan berulangkali. Dan tidak wajib datang untuk walimah yang selanjutnya, berdasarkan sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Walimah pertama adalah hak (sesuai dengan syari’at, pent), walimah kedua adalah baik, dan walimah yang ketiga adalah riya’ dan sum’ah” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Syaikh Taqiyuddin berkata: “Diharamkan makan dan menyembelih yang melebihi batas pada hari berikutnya meskipun sudah menjadi kebiasaan masyarakat atau untuk membahagiakan keluarganya, dan pelakunya harus diberi hukuman” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>2. Yang mengundang adalah seorang muslim </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>3. Yang mengundang bukan termasuk ahli maksiat yang terang-terangan melakukan kemaksiatannya, yang mereka itu wajib dijauhi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>4. Undangannya tertuju kepadanya secara khusus, bukan undangan umum. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>5. Tidak ada kemungkaran dalam walimah tersebut seperti adanya khamr (minuman keras), musik, nyanyian dan biduan, seperti yang banyak terjadi dalam acara walimah sekarang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Apabila terpenuhi syarat-syarat tersebut, maka wajib memenuhi undangan walimah, sebagaimana sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Sejelek-jelek makanan adalah hidangan walimah yang orang-orang miskin tidak diundang tetapi orangorang yang kaya diundang. (Meskipun emikian)<br />
barangsiapa yang tidak memenuhi undangan walimah berarti dia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya”. (HR. Muslim). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Dan disunnahkan untuk mengumumkan pernikahan dan menampakkannya sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Umumkanlah acara pernikahan”. Dan dalam riwayat lain: “Tampakkanlah acara pernikahan” (HR. Ibnu Majah) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>Disunnahkan pula menabuh rebana sebagaimana sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span>“Pembeda antara nyanyian serta musik yang halal dan yang haram adalah nyanyian dan rebana dalam acara pernikahan” (HR. Nasa’i, Ahmad dan Tirmidzi. Dan Tirmidzi menghasankannya). </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.web.id/11/02/2010/bekal-bekal-menuju-pernikahan-sesuai-sunnah-nabi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana kedudukan hadits &#8216;Perselisihan umatku adalah rahmat&#8217;</title>
		<link>http://ahlussunnah.web.id/11/02/2010/bagaimana-kedudukan-hadits-perselisihan-umatku-adalah-rahmat</link>
		<comments>http://ahlussunnah.web.id/11/02/2010/bagaimana-kedudukan-hadits-perselisihan-umatku-adalah-rahmat#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 14:10:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdulaziz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Kedudukan Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.web.id/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al Ustadz Abu Abdurahman Abdul Aziz
Perselisihan dan kontradiksi pendapat yang mewarnai umat ini, seakan sudah menjadi perkara yang dianggap lumrah. Slogan-slogan dari sebagian orang yang mengatakan : “Perselisihan itu adalah rahmat, jadi diantara kita harus memiliki rasa toleransi”, atau “Kita saling tolong-menolong pada hal-hal yang kita sepakati dan kita bertoleransi pada hal-hal yang kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="dateartikel"><span style="color: #333333">Penulis: Al Ustadz Abu Abdurahman Abdul Aziz</span></span></p>
<p style="font-family: Tahoma,Verdana,Arial,sans-serif;line-height: 150%">Perselisihan dan kontradiksi pendapat yang mewarnai umat ini, seakan sudah menjadi perkara yang dianggap lumrah. Slogan-slogan dari sebagian orang yang mengatakan : “Perselisihan itu adalah rahmat, jadi diantara kita harus memiliki rasa toleransi”, atau “Kita saling tolong-menolong pada hal-hal yang kita sepakati dan kita bertoleransi pada hal-hal yang kita perselisihkan” pun turut menghiasi, seakan menyetujui perselisihan yang kian larut ini.</p>
<p>Sekilas slogan-slogan tersebut memberi kesejukan dan ketenangan jiwa manusia. Dengan dalih &#8220;&#8230; walaupun berselisih atau berbeda pemahaman, yang penting ukhuwah (persaudaraan) tetap terjalin.&#8221; Walhasil ketika bermuamalah, mereka berusaha untuk tidak menyentuh perkara yang diperselisihkan demi menjaga keutuhan ukhuwah. Sekalipun perkara tersebut adalah sesuatu yang prinsip (jelas) hukumnya dalam agama. Sehingga amar ma’ruf nahi munkar sulit dijalankan, karena adanya rambu-rambu toleransi ala mereka.<br />
<!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span id="more-48"></span><!--[endif]--><br />
Mereka tak sadar –bahwa dengan sikap seperti itu- justru melanggengkan perselisihan yang tajam pada umat ini.<br />
Bila kita melihat realita yang ada, tidak sedikit dari kalangan muslimin yang terperosok jauh akibat perselisihan tersebut. Mereka tidak bisa menerima dan menjalani konsekwensi dari slogan-slogan di atas tadi (“perselisihan adalah rahmat” dan lain-lain). Perselisihan pun menjadi kian meruncing nan tajam.</p>
<p>Bahkan diantara mereka terjatuh dalam pertikaian, permusuhan, bersitegang urat sampai pada bentrokan fisik. Karena masing-masing pihak merasa bangga dan ingin memenangkan pendapat yang dipeganginya.</p>
<p>Semisal dalam hal pemilihan madzhab diantara imam yang empat. Baik dalam perkara aqidah, fiqih maupun muamalah. Sebagai contoh : “Si A tidak mau sholat di masjid yang berbeda madzhab” atau “si B tidak mau bermakmum di belakang si C karena madzhabnya berbeda”. Dan contoh-contoh lain yang telah melanda kehidupan umat Islam. Lalu apakah perselisihan yang demikian ini dikatakan sebagai “rahmat”?</p>
<p><strong>Perkataan Ulama tentang Hadits ini<br />
</strong>Al-Hadits merupakan sumber rujukan utama umat Islam setelah Al-Qur’an. Kedudukan Al-Hadits sedemikian penting, maka mengetahui keshohihan (kebenaran)nya adalah suatu konsekwensi logis. Namun dalam menentukan suatu hadits itu shohih atau tidak, bukanlah hal sepele. Oleh karena itu kita dilarang untuk sembarangan menukil hadits, jika belum pasti keshohihannya.</p>
<p>Ahlul Hadits adalah para ulama yang mereka memahami ilmu-ilmu seputar permasalahan hadits. Baik dari segi matan/redaksi hadits maupun sanad (deretan/rangkaian para perawi hadits yang bersambung sampai kepada Rasulullah). Ahlul Hadits berupaya keras untuk mengumpulkan, meneliti dan memisahkan hadits yang shohih dari yang dho’if (lemah) dan maudhu’ (palsu). Berikut penulis nukilkan perkataan Ahlul Hadits tentang sebuah hadits masyhur : “Perselisihan Umatku adalah Rahmat”.</p>
<p>Asy Syeikh Al Muhadits Nashiruddin Al Albani rohimahullah dalam Silsilah Ahadits Adh Dho’ifah mengenai “hadits” ini, beliau berkata : “Hadits ini tidak ada asalnya”. Para muhadits sudah berupaya keras untuk mendapatkan sanad hadits ini tetapi mereka tidak mendapatkannya. Sampai beliau (Al Albani) berkata : “Al Munawi menukil dari As Subki bahwa dia berkata : “Hadits ini tidak dikenal oleh para muhadits, dan saya belum mendapatkannya baik dalam sanad yang shohih, dho’if, atau maudlu’.</p>
<p>Syaikh Zakariya Al Anshori menyetujuinya dalam ta’liq atas Tafsir Al Baidlawi 2/92 Qaaf (masih dalam manuskrif).</p>
<p>Makna hadits ini pun diingkari oleh para ulama peneliti hadits. Al ‘Allamah Ibnu Hazm berkata dalam kitabnya Al Ihkam fi Ushulil Ahkam Juz 5/hal 64 setelah beliau mengisyaratkan bahwasanya “ucapan” itu bukan hadits : “Ini adalah ucapan rusak yang paling rusak. Karena jika perselisihan itu rahmat, tentu kesepakatan itu sesuatu yang dibenci dan tidak ada seorang muslim pun yang mengatakan demikian. Yang ada hanya kesepakatan atau perselisihan, rahmat atau dibenci. Di kesempatan lain beliau mengatakan : “batil dan dusta”. (Silsilah Ahadits Adh Dho’ifah juz 1, hadits no 57 hal 141)</p>
<p>Dalam kitab Zajrul Mutahawin bi Adz Dzoror Qo’idatil Ma’dzaroh wa Ta’awun hal 32, yang ditulis oleh Hamad bin Ibrohim Al Utsman dan kitab ini telah dimuroja’ah (diteliti ulang) oleh Asy Syeikh Al Allamah Sholeh bin Fauzan Al Fauzan. Disebutkan bahwa : “Hadits ini lemah secara sanad dan matan. Tidak diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadits dengan lafadz ini.<br />
Adapun yang masyhur adalah hadits “Perselisihan para shahabatku adalah rahmat”. Dan sebagian dari ulama ahli ushul menyebutkan hadits tersebut sebagaimana yang dilakukan Ibnul Hajib di dalam Mukhtashornya tentang ushul fiqih.</p>
<p>Berkata Abu Muhammad ibnu Hazm : “Adapun hadits yang telah disebutkan “Perselisihan umatku adalah rahmat” adalah kebatilan dan kedustaan yang bermuara dari orang yang fasik.” (Al Ahkam fi Ushulil Ahkam 5/61)<br />
Al Qoshimy mengomentari (sanad dan matan) hadits ini, dalam kitab Mahasinut Ta’wil 4/928 : “Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa hadits ini tidak dikenal keshohihan sanadnya. At Thobrony dan Al Baihaqy meriwayatkannya di dalam kitab Al Madkhol dengan sanad yang lemah dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’.</p>
<p>Adapun ‘ilat (kelemahan) hadits ini adalah :<br />
1. Adanya perawi yang bernama Sulaiman bin Abi Karimah, Abu Hatim Ar Rozy melemahkannya.<br />
2. Perawi yang bernama Juwaibir, dia seorang Matrukul Hadits (ditinggalkan haditsnya) sebagaimana yang dinyatakan Nasa’i, Daruquthny. Dia meriwayatkan dari Adh Dhohhak perkara-perkara yang palsu termasuk “hadits” ini.<br />
3. Terputusnya (jalur riwayat) antara Adh Dhohhak dan Ibnu ‘Abbas.<br />
Berkata sebagian ulama : “Hadits ini menyelisihi nash-nash ayat dan hadits, seperti firman Allah Ta’ala : “Dan mereka senantiasa berselisih kecuali orang yang yang dirahmati Robbmu” dan sabda Rasulullah “Janganlah kalian berselisih, maka akan berselisih hati-hati kalian” (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan dikeluarkan di dalam Sunan Abu Daud oleh Asy Syeikh Al Albani) dan hadits-hadits yang lain banyak sekali. Maka kesimpulannya bahwa kesepakatan (di atas kebenaran) itu lebih baik daripada perselisihan.</p>
<p><strong>Penutup<br />
</strong>Setiap muslim yang mengaku beriman kepada Allah dan hari Akhir, niscaya akan menyatakan bahwa dirinya cinta kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Namun cinta tidaklah cukup di lisan saja. Bahkan harus diwujudkan dalam amal perbuatan. Salah satu bukti cinta kita kepada Beliau adalah tidak lancang/berani dalam menukil suatu ucapan, lalu mengatasnamakan Rasulullah. Hendaklah takut akan ancaman Beliau : “Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah ia menempatkan tempat duduknya dari api neraka”. (HR.Bukhori)</p>
<p>Alhamdulillah dari penjelasan Ahlul Hadits di atas, dapat diketahui bahwa hadits “Perselisihan umatku adalah rahmat” ternyata bukan merupakan sabda Rasulullah. Atau disebut juga hadits maudhu’. Padahal hadits ini sangat tenar dan menyebar bahkan menjadi pegangan para aktivis dakwah. Namun sebagai seorang muslim yang mau menerima kebenaran, tentulah akan bersegera meninggalkan hadits ini, sebagai salah satu wujud cinta dia kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Allah berfirman : “Dan berpegang teguhlah kalian semua dengan tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.” (Ali Imron : 103)</p>
<p>Al Hafidz Ibnu Katsir rohimahullah berkata : “Allah telah memerintahkan kepada mereka (umat Islam) untuk bersatu dan melarang mereka dari perpecahan. Dalam banyak hadits juga terdapat larangan dari perpecahan dan perintah untuk bersatu dan berkumpul (di atas kebenaran).” (Tafsir Ibnu Katsir 1/367)</p>
<p>Sesungguhnya tidak terdapat satu dalilpun dari Al Qur’an dan As Sunnah yang menunjukkan bahwa perselisihan itu adalah rahmat. Maka sikap menyetujui perselisihan dan menganggapnya sebagai rahmat, justru menyelisihi nash-nash mulia, yang jelas-jelas mencela terjadinya perselisihan. Adapun yang ridho dengan perselisihan tersebut, tidaklah mereka memiliki sandaran dalil melainkan berpegang pada “hadits” yang maudhu’ ini. Wallahul muwafiq ila sabilish showab.</p>
<p>(<strong>Sumber</strong> : Buletin Jum’at Al Jihad, diterbitkan Yayasan As Salaf Samarinda. Telpon (0541) 7010648. Penulis Al Ustadz Abu Abdurrahman Abdul Aziz As Salafy. Judul asli &#8220;Kedudukan dan Penjelasan Hadits “Perselisihan Umatku adalah Rahmat”. )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.web.id/11/02/2010/bagaimana-kedudukan-hadits-perselisihan-umatku-adalah-rahmat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata cara sholat orang sakit</title>
		<link>http://ahlussunnah.web.id/11/02/2010/tata-cara-shalat-orang-sakit</link>
		<comments>http://ahlussunnah.web.id/11/02/2010/tata-cara-shalat-orang-sakit#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 13:52:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdulaziz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[orang sakit]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[Tata cara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.web.id/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Para  ulama  sepakat  bahwa  barangsiapa  yang  tidak mampu melakukan  shalat  dengan  berdiri  hendaknya shalat  sambil  duduk,  dan  jika  tidak  mampu  dengan duduk,  maka  shalat  sambil  berbaring  dengan  posisi tubuh  miring  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Para  ulama  sepakat  bahwa  barangsiapa  yang  tidak mampu melakukan  shalat  dengan  berdiri  hendaknya shalat  sambil  duduk,  dan  jika  tidak  mampu  dengan duduk,  maka  shalat  sambil  berbaring  dengan  posisi tubuh  miring  dan  menghadapkan  muka  ke  kiblat.  Disunnatkan  miring  dengan  posisi  tubuh  miring  di atas  tubuh  bagian  kanan. Dan  jika  tidak  mampu melaksanakan shalat dengan berbaring miring, maka ia  boleh  shalat  dengan  berbaring  telentang, sebagaimana  sabda  Nabi  shallallahu  &#8216;alaihi  wasallam kepada `Imran bin Hushain:</p>
<p>&#8220;Shalatlah  kamu  sambil  berdiri,  dan  jika  kamu tidak mampu, maka sambil duduk, dan jika tidak mampu, maka dengan berbaring&#8221;. (HR. Bukhari).</p>
<p><span id="more-43"></span></p>
<p>Dan Imam An-Nasa&#8217;i menambahkan: &#8220;&#8230;  lalu  jika  tidak  mampu,  maka  sambil telentang&#8221;.  Barangsiapa  mampu  berdiri,  akan  tetapi  tidak mampu  ruku`  atau  sujud,  maka  kewajiban  berdiri tidak  gugur  darinya.  Ia  harus  shalat  sambil  berdiri,  lalu  ruku&#8217;  dengan  isyarat  (menundukkan  kepala), kemudian duduk dan sujud dengan berisyarat, karena firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<p>&#8220;&#8230;Dan berdirilah karena Allah  (dalam shalat-mu) dengan khusyu&#8217;.`&#8221;. (Al-Baqarah: 238).</p>
<p>Dan sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wasallam:</p>
<p>&#8220;Shalatlah kamu sambil berdiri&#8221;.</p>
<p>Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala:</p>
<p>&#8220;Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu&#8221;. (At-Taghabun: 16).</p>
<p>Dan  jika pada matanya  terdapat penyakit, sementara para  ahli  kedokteran  yang  terpercaya  mengatakan:</p>
<p>&#8220;Jika  kamu  shalat  bertelentang  lebih  memudahkan pengobatanmu&#8221;, maka boleh shalat telentang.   Barangsiapa  tidak  mampu  ruku`dan sujud, maka cukup  berisyarat  dengan  menundukkan  kepala  pada saat  ruku&#8217;  dan  sujud,  dan  hendaknya  ketika  sujud lebih rendah daripada ruku`.   Dan  jika hanya  tidak mampu sujud  saja, maka  ruku` (seperti lazimnya) dan sujud dengan berisyarat.    Jika  ia  tidak  dapat  membungkukkan  punggungnya, maka  ia  membungkukkan  lehernya;  dan  jika punggungnya  memang  bungkuk  sehingga  seolah-olah ia sedang  ruku`, maka  apabila hendak  ruku`,  ia  lebih membungkukkan  lagi  sedikit,  dan  di  waktu  sujud  ia lebih  membungkukkan  lagi  semampunya  hingga mukanya lebih mendekati tanah se-mampunya.   Dan  barangsiapa  tidak  mampu  berisyarat  dengan kepala,  maka  dengan  niat  dan  bacaan  saja,  dan kewajiban  shalat  tetap  tidak  gugur  darinya  dalam keadaan  bagaimanapun  selagi  ia  masih  sadar  (berakal), karena dalil-dalil tersebut di atas.   Dan  apabila  ditengah-tengah  shalat  si  penderita mampu melakukan apa yang  tidak mampu  ia  lakukan sebelumnya,  seperti  berdiri,  ruku`,  sujud  atau  berisyarat  dengan  kepala, maka  ia  berpindah  kepadanya (melakukan  apa  yang  ia mampu)  dengan meneruskan shalat tersebut.   Dan  apabila  si  sakit  tertidur  atau  lupa  melakukan shalat  atau  karena  lainnya,  ia wajib menunaikannya di saat ia bangun atau di saat ia ingat, dan tidak boleh menundanya kepada waktu berikutnya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam:</p>
<p>&#8220;Barangsiapa  tertidur  atau  lupa  melakukan shalat, maka hendaknya ia menunaikannya pada saat  ia  ingat,  tidak  ada  tebusan  lain  baginya kecuali hanya itu&#8221;. Lalu beliau membaca  firman Allah:</p>
<p>&#8220;dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu&#8221;. (Thaha: 14).</p>
<p>Tidak  boleh  meninggalkan  shalat  dalam  keadaan bagaimanapun;  bahkan  setiap  mukallaf  wajib bersungguh-sungguh  untuk  menunaikan  shalat  pada hari-hari  sakitnya  melebihi  hari-hari  ketika  ia  sehat.  Jadi,  tidak  boleh  baginya  meninggalkan  shalat  wajib hingga  lewat  waktunya,  sekalipun  ia  sakit  selagi  ia masih  sadar  (kesadarannya  utuh).  Ia  wajib  menunaikan  shalat  tersebut  menurut  kemampuannya.  Dan apabila  ia  meninggalkannya  dengan  sengaja,  sedangkan  ia  sadar  (masih  berakal)  lagi  mukallaf   serta mampu  melakukannya,  walaupun  hanya  dengan isyarat,  maka  dia  adalah  orang  yang  berbuat  dosa. Bahkan ada sebagian dari para Ahlul `ilm (ulama) yang mengkafirkannya  berdasarkan  sabda Nabi  shallallahu &#8216;alaihi wasallam:</p>
<p>&#8220;Perjanjian  antara  kita  dengan  mereka  (orang munafiq)  adalah  shalat,  barangsiapa meninggalkannya maka kafirlah ia&#8221;.</p>
<p>Dan sabdanya:</p>
<p>&#8220;Pokok  segala perkara adalah Al-Islam,  tiangnya Islam  adalah  shalat  dan  puncak  Islam  adalah jihad di jalan Allah&#8221;</p>
<p>Begitu pula sabda beliau shallallahu &#8216;alaihi wasallam:</p>
<p>&#8220;(Pembatas)  antara  seorang  muslim  dengan kemusyrikan  dan  kekufuran  adalah meninggalkan  shalat&#8221;  (HR.  Muslim  di  dalam Shahih-nya).</p>
<p>Dan  pendapat  ini  yang  lebih  shahih,  sebagaimana yang  dijelaskan  di  dalam  ayat-ayat  Al-Qur&#8217;an  tentang shalat dan hadits-hadits tersebut.   Dan  jika  ia  kesulitan  untuk  melakukan  shalat  pada waktunya, maka boleh menjama&#8217; antara shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dan shalat Maghrib dengan shalat Isya&#8217;,  baik  jama&#8217;  taqdim maupun  jama&#8217;  ta&#8217;khir,  sesuai kemampuannya.  Dan  jika  ia  mau  boleh  memajukan shalat Asharnya digabung dengan shalat Zhuhur atau mengakhirkan Zhuhur bersama Ashar di waktu Ashar.  Atau  jika  ia  menghendaki,  boleh  memajukan  Isya&#8217; bersama  Maghrib  atau  mengakhirkan  Maghrib bersama  Isya&#8217;. Adapun shalat Subuh,  (tetap dilakukan seperti biasa) tidak bisa dijama&#8217; dengan shalat sebelum atau  sesudahnya,  karena  waktunya  terpisah  dari shalat sebelum dan sesudahnya.   Inilah  hal-hal  yang  berhubungan  dengan  orang  sakit dalam bersuci dan melakukan shalat.   Aku  memohon  kepada  Allah  Subhanahu  wa  Ta&#8217;ala. Semoga  menyembuhkan  orang-orang  sakit  dari  kaum muslim  dan  menghapus  dosa-dosa mereka,  dan mengaruniakan ma`af  dan  afiat  kepada  kita  semua  di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.</p>
<p>Mufti Umum Kerajaan Saudi Arabia, Pimpinan Dewan Ulama Senior dan Kajian Ilmiyah dan Fatwa, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.web.id/11/02/2010/tata-cara-shalat-orang-sakit/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Shalat Tanpa Sutroh (Penghalang)</title>
		<link>http://ahlussunnah.web.id/11/02/2010/hukum-shalat-tanpa-sutroh-penghalang</link>
		<comments>http://ahlussunnah.web.id/11/02/2010/hukum-shalat-tanpa-sutroh-penghalang#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 13:08:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdulaziz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[sutroh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.web.id/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Asy Syaikh Al Albani –rahimahullah- beliau ditanya tentang hukum shalat tanpa sutroh bagi orang yang menyakini wajibnya?
Jawaban Syaikh –rahimahullah- : Shalatnya sah namun ia berdosa.
Sumber : Silsilah Al Huda wan Nur, kaset no 184.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Asy Syaikh Al Albani –rahimahullah- beliau ditanya tentang hukum shalat tanpa sutroh bagi orang yang menyakini wajibnya?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong>Jawaban Syaikh </strong>–rahimahullah- : Shalatnya sah namun ia berdosa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong>Sumber </strong>: Silsilah Al Huda wan Nur, kaset no 184.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.web.id/11/02/2010/hukum-shalat-tanpa-sutroh-penghalang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaidah Bacaan Sirriyyah (Pelan) dan Bacaan Jahriyyah (Nyaring) di dalam Shalat</title>
		<link>http://ahlussunnah.web.id/09/02/2010/kaidah-bacaan-sirriyyah-pelan-dan-bacaan-jahriyyah-nyaring-di-dalam-shalat</link>
		<comments>http://ahlussunnah.web.id/09/02/2010/kaidah-bacaan-sirriyyah-pelan-dan-bacaan-jahriyyah-nyaring-di-dalam-shalat#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 08:54:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdulaziz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[jahriyyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kaidah]]></category>
		<category><![CDATA[sirriyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.web.id/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Asy Syaikh Muhammad Umar Bazmul hafizhahullah
Masalah Pertama :
Apa kaidah bacaan sirriyyah dan bacaan jahriyyah?
Para ulama berkata bahwa kaidah bacaan jahriyyah adalah membaca ayat yang bisa didengar oleh orang disampingnya. Apabila sesorang membaca ayat dan orang yang disamping mendengarnya, maka dia membaca dalam keadaan bacaan jahriyyah. Dan mereka (para ulama) berkata, adapun bacaan sirriyyah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : <strong>Asy Syaikh Muhammad Umar Bazmul <em>hafizhahullah</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong>Masalah Pertama</strong> :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Apa kaidah bacaan sirriyyah dan bacaan jahriyyah?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Para ulama berkata bahwa kaidah bacaan jahriyyah adalah membaca ayat yang bisa didengar oleh orang disampingnya. Apabila sesorang membaca ayat dan orang yang disamping mendengarnya, maka dia membaca dalam keadaan bacaan jahriyyah. Dan mereka (para ulama) berkata, adapun bacaan sirriyyah yaitu seseorang membaca dengan membawakan (lafazh) dzikir dan menggerakan lisannya, dimana dirinya mendengarnya kendati orang yang dekat darinya tidak mendengar. Bacaan sirriyyah harus dengan gerakan lisan. Dan syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa (bacaannya) sah kendati dirinya tidak mendengar. Sedangkan yang lain berpendapat bahwa bacaan sirriyyah harus dengan gerakan lisan. Dan dirinya harus mendengar, dimana sekiranya ada seseorang yang memasang pendengarannya dekat dengan kepala pembaca yang membaca dengan bacaan sirriyyah, niscaya dia akan mengetahui bacaannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span id="more-37"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong>Masalah Kedua</strong> :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Apabila kita mengetahui kaidah bacaan jahriyyah dan sirriyyah, maka kami katakan : apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang berhenti (diam) pada saat shalat dalam keadaan tertutup kedua bibir mereka lagi tidak bergerak lisan mereka, hingga mereka selesai dari shalat. Mereka tidak menggerakan lisan mereka dengan bacaan pada saat berdiri yang dengannya ada bacaan. Mereka tidak menggerakkan lisan mereka dengan dzikir-dzikir, baik ketika ruku’ dan bangkit darinya, juga ketika sujud dan bangkit darinya serta ketika duduk tasyahhud.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Maka kami katakan : Shalat mereka batal, karena mereka tidak membaca di dalam shalatnya. Karena dalam bacaan harus ada gerakan lisan. Dan menurut sebagian fuqaha harus ada dalam bacaan sirriyyah berupa gerakan lisan dan diperdengarkan untuk diri sendiri. Ini merupakan masalah yang penting. Kebanyakan manusia mengatakan ; Kami senantiasa menjaga dzikir-dzikir pagi dan petang, dan kita memohon perlindungan kepada Allah, namun tetap saja menimpa kami perkara ini atau terjadi peristiwa seperti itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Maka kami katakan : Dzikir-dzkir pagi dan petang apabila engkau mengucapkannya dalam keadaan sirr (pelan), maka haruslah engkau gerakkan lisanmu, karena tidak bermanfaat engkau lalui (bacaan) di atas kertas itu dengan kedua matamu. Dan engkau katakan : ini adalah bacaan sirriyyah. Ini bukan bukan dinamakan bacaan sirriyyah dan juga bukan dinamakan kalam (kalimat yang berfaidah) di dalam bahasa arab. Bacaan dalam sebuah ucapan di dalam bahasa arab harus ada padanya gerakan lisan. Oleh karena itu –sebagaimana yang kalian lihat- datang di dalam hadits bahwasanya sahabat –ridhwanullahu ‘alaihim- mereka mengetahui bacaan Rasul pada saat sirriyyah dengan goyangan janggutnya. Maka hal ini menunjukkan bahwa Rasul shallallahu’alaihi wasallam hingga pada saat sirriyyah Beliau menggerakkan lisannya dan kedua bibirnya. Dan ini disertai adanya qudrah (kemampuan) dan tidak ada penghalangnya”. <span> </span><span> </span></p>
<p><span>Sumber : Syarah Kitab Shifat Shalat Nabi shallallahu’alaihi wasallam minat Takbir ila Taslim Ka-annaka Taraaha, karya Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah hal 202.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.web.id/09/02/2010/kaidah-bacaan-sirriyyah-pelan-dan-bacaan-jahriyyah-nyaring-di-dalam-shalat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Ucapan “Syukron” ( شكرا ) Bagi Seseorang yang Berbuat Baik Terhadap Orang Lain</title>
		<link>http://ahlussunnah.web.id/09/02/2010/hukum-ucapan-%e2%80%9csyukron%e2%80%9d-%d8%b4%d9%83%d8%b1%d8%a7-bagi-seseorang-yang-berbuat-baik-terhadap-orang-lain</link>
		<comments>http://ahlussunnah.web.id/09/02/2010/hukum-ucapan-%e2%80%9csyukron%e2%80%9d-%d8%b4%d9%83%d8%b1%d8%a7-bagi-seseorang-yang-berbuat-baik-terhadap-orang-lain#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 03:54:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdulaziz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.web.id/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Fadhilatus Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi rahimahullah
Pertanyaan : Apa hukum ucapan “Syukron”  ( شكرا )  bagi seseorang yang berbuat baik terhadap orang lain?
Maka jawaban Syaikh : “Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia telah meninggalkan perkara yang afdhal (lebih utama), yaitu ucapan جزاك الله خيرا “Semoga Allah membalas kebaikanmu”. Wabillahi taufiq.
Sumber : [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Oleh : <strong>Fadhilatus Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi <em>rahimahullah</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong>Pertanyaan</strong> : Apa hukum ucapan “Syukron”  <span dir="rtl" lang="AR-SA">( شكرا ) </span><span></span> bagi seseorang yang berbuat baik terhadap orang lain?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong>Maka jawaban Syaikh</strong> : “Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia telah meninggalkan perkara yang afdhal (lebih utama), yaitu ucapan <span dir="rtl" lang="AR-SA">جزاك الله خيرا</span><span lang="AR-SA"> </span>“Semoga Allah membalas kebaikanmu”. Wabillahi taufiq.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong>Sumber </strong>: Kitab Fathur Rabbil Wadud fil Fatawa war Rasail war Rudud karya Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi -rahimahullah- jilid 1 hal 68.</p>
<p><span><a href="http://sahab.net/forums/showthread.php?t=374688">http://sahab.net/forums/showthread.php?t=374688</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.web.id/09/02/2010/hukum-ucapan-%e2%80%9csyukron%e2%80%9d-%d8%b4%d9%83%d8%b1%d8%a7-bagi-seseorang-yang-berbuat-baik-terhadap-orang-lain/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amalan yang mengalir pahalanya dan sebab-sebabnya</title>
		<link>http://ahlussunnah.web.id/08/02/2010/27</link>
		<comments>http://ahlussunnah.web.id/08/02/2010/27#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 15:07:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdulaziz</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat]]></category>
		<category><![CDATA[amalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ahlussunnah.web.id/08/02/2010/27</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah
 بسم الله الرحمن الرحيم
Berbekal dengan ketaatan-ketaatan dan memperbanyak amalan shalih merupakan tujuan dan keinginan setiap mukmin. Oleh karena itu, Asy Syaikh Al ‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa’di –rahimahullah- ditanya tentang sebab-sebab bertambahnya pahala amalan shalih, maka beliau –rahimahullah- menjawab dengan jawaban yang berharga, dimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span>Oleh : Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 1.75pt 0.0001pt 0in; text-align: center;"><span dir="rtl" lang="AR-SA"> بسم الله الرحمن الرحيم</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Berbekal dengan ketaatan-ketaatan dan memperbanyak amalan shalih merupakan tujuan dan keinginan setiap mukmin. Oleh karena itu, Asy Syaikh Al ‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As Sa’di –rahimahullah- ditanya tentang sebab-sebab bertambahnya pahala amalan shalih, maka beliau –rahimahullah- menjawab dengan jawaban yang berharga, dimana beliau menyebutkan beberapa sebab dilipatgandakannya pahala berdasarkan dalil nash dua wahyu (Al Qur’an dan As Sunnah) dan dalam upaya memelihara syiar-syiar syari’at dan kemaslahatannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Beliau –rahimahullah- mengatakan : Jawabannya, dan dengan taufik Allah : “Adapun dilipatgandakannya amalan adalah dengan satu kebaikan hingga mencapai sepuluh kali lipat (kebaikan) yang semisalnya. Maka ini didapatkan pada setiap amalan shalih, sebagaimana firman-Nya Ta’ala :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span dir="ltr"><span> </span></span><span style="font-size: 14pt; font-family: HQPB2;" dir="ltr"> </span>&#8220;<span>Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya&#8221;. (Al An’am : 160) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Dan adapun kelipatan (kebaikan) dengan adanya tambahan dari (pahala tersebut), maka itulah yang diinginkan oleh penanya. Hal itu memiliki sebab-sebab, terkadang berkaitan dengan pelaku amalan, atau amalan itu sendiri, waktu, tempat dan pengaruh-pengaruhnya.<span id="more-27"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Diantara sebab-sebab dilipatgandakannya (pahala) adalah hendaknya seorang hamba merealisasikan keikhlasan di dalam amalannya kepada Dzat yang diibadahi dan mutaba’ah (mengikuti Rasulullah saw). Maka amalan itu termasuk amalan-amalan yang disyari’atkan. Dan seorang hamba bertujuan dengannya ridho Rabbnya dan pahala-Nya. Oleh karena itu, realisasikanlah tujuan ini, yaitu menjadikan dirinya sebagai penyeru kepada amalan ini, dan itu merupakan tujuan amalannya. Yaitu hendaklah amalannya bersumber dari keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan hendaklah ia menjadi penyeru kepada (amalan tersebut) berdasarkan perintah Pembuat syari’at, serta hendaklah tujuannya adalah wajah Allah dan ridho-Nya, sebagaimana makna ini tertera di dalam beberapa ayat dan hadits, seperti firman-Nya Ta’ala :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: rtl;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; font-family: HQPB1;" dir="ltr"> </span><span lang="AR-SA"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>“Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (Al Maidah : 27)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Maksudnya, orang-orang yang bertakwa kepada Allah di dalam amalan mereka dengan mengaktualisasikan keikhlasan dan mutaba’ah, dan sebagaimana di dalam sabda Nabi saw :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>“Barangsiapa puasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni baginya apa-apa yang telah lewat dari dosanya”. Dan selainnya dari nash-nash.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Sedikit beramal disertai keikhlasan yang sempurna itu lebih kuat daripada banyak (beramal) namun tidak sampai kepada martabatnya dalam hal kuatnya keikhlasan. Oleh karena itu, amalan-amalan yang nampak itu bertingkat-tingkat di sisi Allah sesuai dengan tingkat keimanan dan keikhlasan yang tertanam di dalam hati seseorang. Dan masuk dalam kategori amalan-amalan shalih yang bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat keikhlasan adalah meninggalkan apa yang diinginkan oleh jiwa dari syahwat yang diharamkan, apabila ia meninggalkannya dalam kondisi ikhlas dari hatinya. Dan dia meninggalkannya bukan karena adanya faktor-faktor selain keikhlasan dan kisah Ashabul Ghaar (Kisah tiga pemuda yang terkurung dalam gua) menjadi saksi atas perkara tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Dan termasuk sebab-sebab dilipatgandakannya (pahala itu) –dan ia merupakan prinsip dan dasar sebagaimana yang telah lewat- yaitu, Aqidah yang shahih, kuatnya keimanan kepada Allah dan sifat-sifat-Nya, kuatnya kehendak seorang hamba dan semangat dia dalam hal kebaikan. Sesungguhnya Ahlusunnah wal Jama’ah semata dan para ulama yang sempurna di dalam merinci nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, dan kuatnya (keinginan mereka) untuk bertemu dengan Allah, maka dilipatgandakanlah (pahala) amalan mereka dengan kelipatan yang besar, yang tidak akan diraih yang semisalnya dan tidak bisa mendekatinya bagi orang yang tidak bersama mereka dalam hal keimanan dan aqidah ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Oleh karena itu, (para ulama) salaf mengatakan : “Ahlussunnah kendati mereka bersederhana dalam amalannya, namun aqidah mereka kokoh. Sedangkan Ahlul bid’ah kendati amalan-amalan mereka banyak, namun aqidah mereka bobrok. Sehingga sisi pelajaran yang bisa diambil bahwa Ahlussunah mereka mendapat petunjuk, sedangkan Ahlul bid’ah mereka sesat. Dan telah diketahui perbedaan antara orang yang berjalan di atas jalan yang lurus dan orang yang menyimpang darinya menuju kepada jalan-jalan neraka Jahannam. Dan pada puncaknya dia menjadi orang yang sesat lagi suka mentakwil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Dan diantara sebab dilipatgandakannya (pahala) amalan adalah hendaklah amalan-amalan yang manfaatnya diperuntukkan kepada Islam dan muslimin itu memiliki kedudukan, pengaruh, kecukupan dan manfaat yang besar. Dan itu seperti jihad di jalan Allah, baik jihad fisik, harta, ucapan, dan membantah orang yang menyimpang, sebagaimana penyebutan nafkah orang-orang yang berjihad dan dilipatgandakannya (pahala amalan mereka) dengan tujuh ratus kali lipat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Dan termasuk jihad yang paling besar adalah : menempuh jalan-jalan belajar dan mengajarkan ilmu. Karena menyibukkan dengan hal tersebut bagi siapa saja yang shahih niatnya, maka tidak ada amalan dari amalan-amalan yang sebanding dengannya. Sebab terkandung di dalamnya menghidupkan ilmu dan agama, membimbing orang yang jahil, berdakwah kepada kebaikan dan mencegah dari kejelekan. Sedangkan kebaikan itu banyak sekali, yang seorang hamba akan tercukupkan darinya. Maka barangsiapa menempuh satu jalan untuk mencari ilmu, maka dia akan dimudahkan untuk menempuh jalan menuju surga. Dan diantara jalan-jalan kebaikan yang di dalamnya kaum muslimin dibantu dalam urusan agama dan dunia mereka dan dirasakan manfaatnya secara terus menerus serta kebaikannya bersambung adalah sebagaimana diriwayatkan di dalam Ash Shahih, Nabi saw bersabda : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>“Apabila seorang hamba meninggal, maka terputus amalannya kecuali dari tiga hal : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat sepeninggalnya, anak shalih yang mendoakannya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Dan termasuk amalan-amalan yang dilipatgandakan (pahalanya), adalah amalan yang apabila seorang hamba melaksanakannya, lalu selainnya ikut (melaksanakannya). Maka ini juga akan dilipatgandakan tergantung orang yang mengikutinya. Dan barangsiapa menjadi sebab dilaksanakannya amalan itu oleh saudaranya muslimin, maka ini tanpa diragukan akan menambah pahala amalan tersebut berkali-kali lipat. Sebaliknya apabila seorang hamba mengamalkannya, namun tidak ada seorang pun yang mengikutinya, maka ia termasuk amalan yang dicukupkan bagi pelakunya. Oleh karena ini, para fuqaha mengutamakan amalan-amalan yang memberi (manfaat) bagi selainnya di atas amalan-amalan yang dicukupkan (untuk dirinya).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Dan termasuk amalan-amalan yang dilipatgandakan ; apabila amalan itu memiliki kedudukan yang agung dan manfaat yang besar, terkandung di dalamnya penyelamatan dari kebinasaan dan melenyapkan madharat dari orang yang membuat madharat, serta menghilangkan kesulitan orang-orang yang kesusahan. Maka berapa banyak dari amalan dari jenis ini menjadi sebab yang paling besar di dalam menyelamatkan seorang hamba dari siksaan. Dan ia memperoleh keberuntungan dengan pahala yang banyak. Hingga hewan-hewan apabila dihilangkan sesuatu yang membahayakannya, maka pahalanya besar. Dan kisah wanita pezina yang memberi minum kepada anjing yang hampir mati karena kehausan, maka diampuni perbuatan kejinya. Itu menjadi saksi atas perkara ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Dan termasuk sebab-sebab dilipatgandakannya (pahala) adalah hendaklah seorang hamba Islamnya baik, baik jalannya, meninggalkan dosa-dosa, tidak terus-menerus di atas sesuatu dari (dosa-dosa tersebut). Maka sesungguhnya amalan-amalan ini dilipatgandakan (pahalanya) sebagaimana tertera di dalam hadits yang shahih, Beliau saw bersabda :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>“Apabila salah seorang kalian baik Islamnya, maka setiap kebaikan yang diamalkannya akan dicatat baginya sepuluh kali lipat yang semisalnya hingga tujuh ratus kali lipat”. (Al Hadits)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Dan termasuk sebab-sebabnya adalah diangkatnya pelaku amalan di sisi Allah, dan kedudukannya yang tinggi di dalam Islam. Maka sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Lembut. Oleh karena ini, pahala para istri Nabi dilipatgandakan. Allah Ta’ala berfirman :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; direction: rtl;" dir="rtl"><span lang="AR-SA"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>“Dan barangsiapa diantara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang shalih, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat”. (Al Ahzab : 31)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Dan demikian pula, ‘alim rabbani, yaitu seorang ‘alim yang beramal lagi mengajarkan ilmu, maka dilipatgandakan (pahala) amalannya sesuai dengan kedudukannya di sisi Allah. Sebagaimana orang yang semisal mereka apabila terjatuh ke dalam dosa, maka (dosanya) lebih besar dari selain mereka. Karena wajib bagi mereka untuk lebih menghindari (dosa), dan karena wajib bagi mereka untuk lebih bersyukur kepada Allah atas apa yang dikhususkan kepada mereka berupa nikmat-nikmat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Dan diantara sebab-sebabnya adalah bersedekah dengan penghasilan yang baik, sebagaimana hal tersebut diriwayatkan dalam nash-nash. Dan diantaranya, waktu yang dimuliakan seperti Ramadhan dan sepuluh Dzulhijjah serta semisalnya. Dan tempat yang dimuliakan seperti beribadah di tiga masjid. Serta beribadah pada waktu-waktu yang dianjurkan oleh Pembuat syari’at untuk melaksanakannya, seperti shalat di akhir malam, dan puasa pada hari-hari yang utama serta semisalnya. Dan ini kembali kepada perealisasian mutaba’ah terhadap Rasulullah secara sempurna karena Allah, disertai keikhlasan terhadap amalan-amalan yang menumbuhkan pahalanya di sisi Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Dan diantara sebab-sebab dilipatgandakannya (pahala) adalah melaksanakan amalan-amalan shalih ketika ada rintangan dan halangan dari luar. Maka tatkala berbagai halangan itu lebih kuat dan faktor-faktor pendorong untuk meninggalkannya lebih banyak, maka amalan itu menjadi lebih sempurna dan lebih banyak kelipatannya. Dan permisalan in banyak sekali. Namun ini adalah ketentuannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Dan termasuk yang paling penting dilipatgandakannya (pahala) amalan adalah bersungguh-sungguh di dalam merealisasikan kedudukan ihsan dan muraqabah (merasa diawasi). Dan hadirnya hati di dalam beramal. Tatkala perkara-perkara ini lebih kuat, <span> </span>maka pahalanya lebih banyak. Oleh karena itu, tertera di dalam hadits, Beliau saw bersabda : </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>“Tidak ada bagimu bagian dari shalatmu kecuali engkau dalam keadaan berakal”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Maka shalat dan yang semisalnya walaupun diterima apabila datang dengan penampilannya yang nampak, dan kewajibannya yang nampak dan tersembunyi, melainkan bahwa kesempurnaan diterimanya (amalan itu), kesempurnaan pahala, bertambahnya kebaikan-kebaikan, diangkatnya derajat, dihapuskannya kejelekan-kejelekan, dan bertambahnya cahaya keimanan itu tergantung konsentrasi hati dalam beribadah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Oleh karena itu, termasuk sebab-sebab dilipatgandakannya (pahala) amal adalah diperolehnya bekas-bekas kebaikan di dalam memberi manfaat kepada seorang hamba, menambah imannya, melembutkan hatinya, ketenangannya, dan diperolehnya makna-makna yang terpuji bagi hati dari pengaruh-pengaruh amalan. Karena amalan-amalan manakala sempurna, maka pengaruhnya pun di dalam hati lebih baik. Wa billahit taufiq.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Dan termasuk faktor-faktor dilipatgandakannya (pahala) bahwa beramal dalam keadaan bersendirian, terkadang menjadi sebab dilipatgandakannya pahala. Karena ia termasuk dalam tujuh golongan yang Allah menaungi mereka dalam naungan-Nya :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>“Seseorang yang bersedekah dengan sebuah sedekah, lalu ia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya…dan diantaranya ; seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan bersendirian, lalu mengalirlah air matanya”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Sebagaimana bahwa menampakkan (amalan tersebut) terkadang menjadi sebab dilipagandakannya (pahala) seperti amalan-amalan yang menjadi teladan dan panutan. Dan ini masuk di dalam sebuah kaidah yang masyhur ; terkadang ditampakkannya suatu amalan yang mengandung kemaslahatan, sehingga menjadikannya lebih utama dari selainnya. Dan diantara perkara yang disepakati diantara para ulama rabbani bahwa berhias dengan sifat pada setiap waktu dengan kuatnya keikhlasan kepada Allah, dan mencintai kebaikan bagi muslimin diringi dengan berzikir kepada Allah, maka tidak ada sesuatu dari amalan-amalan yang setara. Sedangkan pelaku amalan tersebut berlomba-lomba pada setiap keutamaan, ganjaran dan pahala serta selainnya dari amalan-amalan yang mengikutinya. Maka orang yang ikhlas, berbuat ihsan dan berzikir, mereka itu adalah orang-orang yang berlomba-lomba lagi mendekatkan diri di dalam surga-surga kenikmatan.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ahlussunnah.web.id/08/02/2010/27/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
